KISAH-KISAH BANJAR

Page 6 of 7 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Next

View previous topic View next topic Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by Atong on Tue Dec 29, 2009 5:34 pm

ayo hak bulikan

ulon belom habes bekisah nei

Atong
Mejar Jeneral
Mejar Jeneral

Posts: 8268
Points: 8310
Join date: 22/05/2009
Location: Alam Maya (Kuala Lumpur)

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by didin on Tue Dec 29, 2009 6:22 pm

RIWAYAT DATU SANGGUL

Profile Secara Umum

Pengenalan

Menurut
riwayat, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari pernah bertemu dengan Datu
Sanggul sewaktu masih menuntut ilmu di Mekkah. Dalam beberapa kali
pertemuan tersebut, keduanya kemudian sharing dan diskusi masalah ilmu
ketuhanan. Hasil dari diskusi mereka tersebut kemudian ditulis dalam
sebuah kitab yang oleh orang Banjar dinamakan kitab Barencong. Siapakah
Datu Sanggul?


Berdasarkan
tutur lisan yang berkembang dalam masyarakat dan beberapa catatan dari
beberapa orang penulis buku, sepengetahuan penulis setidaknya ada tiga
versi yang menjelaskan tentang sosok dan kiprah Datu Sanggul.


Versi Pertama menyatakan
bahwa Datu Sanggul adalah putra asli Banjar. Kehadirannya menjadi
penting dan lebih dikenal sejarah lewat lisan dan berita Syekh
Muhammad. Arsyad yang bertemu dengannya ketika beliau masih belajar di
Mekkah. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Datu Sanggul pernah
berbagi ilmu dengan Syekh Muhammad Arsyad dan melahirkan satu kitab
yang disebut dengan kitab Barencong yang isinya menguraikan
tentang ilmu tasawuf atau rahasia-rahasia ketuhanan dan sampai sekarang
masih menjadi bahan perdebatan serta diragukan keberadaannya, karena
tidak pernah ditemukan naskahnya. Namun walaupun demikian pengertian
dari kitab Barencong itu sendiri dapat kita tinjau dan pahami dari dua
sisi, yakni pemahaman secara tersurat dan secara tersirat. Secara
tersurat boleh jadi kitab tersebut memang ada, berbentuk seperti
umumnya sebuah buku dan ditulis bersama sebagai suatu konsensus
keilmuan oleh Syekh Muhammad Arsyad dan Datu Sanggul (hal ini
menggambarkan adanya pengakuan dari Syekh Muhammad Arsyad akan
ketinggian ilmu tasawuf Datu Sanggul).


Kemudian
secara tersirat dapat pula dipahami bahwa maksud kitab Barencong
tersebut adalah simbol dari pemahaman ketuhanan Syekh Muhammad Arsyad
yang mendasarkan tasawufnya dari langit turun ke bumi dan simbol
pemahamanan tasawuf Datu Sanggul dari bumi naik ke langit. Maksudnya
kalau Syekh Muhammad Arsyad belajar ilmu ketuhanan dan tasawuf
berdasarkan ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan kepada Nabi Saw dan
tergambar dalam Shirah hidup beliau, sahabat dan orang-orang sholeh
sedangkan Datu Sanggul mengenal hakikat Tuhan berdasarkan apa-apa yang
telah diciptakan-Nya (alam), sehingga dari pemahaman terhadap alam
itulah menyampaikannya kepada kebenaran sejati yakni Allah, karena
memang pada alam dan bahkan pada diri manusia terdapat tanda-tanda
kekuasaan-Nya bagi mereka yang mentafakurinya. Dengan kata lain ilmu
tasawuf Datu Sanggul adalah ilmu laduni yang telah dikaruniakan oleh
Allah kepadanya. Karena itulah orang yang ingin mempelajari ilmu
tasawuf pada dasarnya harus menggabungkan dua sumber acuan pokok, yakni
berdasarkan wahyu (qauliyah) dan berdasarkan ayat-ayatNya “tanda-tanda” (qauniyah) yang terpampang jelas pada alam atau makhluk ciptaanNya.


Versi Kedua,
menurut Zafri Zamzam (1974) Datu Sanggul yang dikenal pula sebagai Datu
Muning adalah ulama yang aktif berdakwah di daerah bagian selatan
Banjarmasin (Rantau dan sekitarnya), ia giat mengusahakan/memberi
tiang-tiang kayu besi bagi orang-orang yang mendirikan masjid, sehingga
pokok kayu ulin besar bekas tebangan Datu Sanggul di Kampung Pungguh
(Kabupaten Barito Utara) dan pancangan tiang ulin di pedalaman Kampung
Dayak Batung (Kabupaten Hulu Sungai Selatan) serta makam beliau yang
panjang di Kampung Tatakan (Kabupaten Tapin) masih dikenal hingga
sekarang. Salah satu karya spektakulernya yang masih dikenang hingga
kini adalah membuat tatalan atau tatakan kayu menjadi soko
guru masjid desa Tatakan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan
Kalijaga ketika membuat soko guru dari tatalan kayu untuk masjid Demak.
Tidak ada yang tahu siapa nama asli tokoh ini, sebutan Datu Sanggul
adalah nama yang diberikan oleh Syekh Muhammad Arsyad ketika beliau
menjawab tidak memakai ilmu atau bacaan tertentu, kecuali “hanya
menjaga keluar masuknya nafas, kapan ia masuk dan kapan ia keluar”,
sehingga dapat secara rutin pulang pergi sholat ke Masjidil Haram
setiap hari Jumat.


Versi ketiga, berdasarkan
buku yang disusun oleh H.M. Marwan (2000) menjelaskan bahwa nama asli
Datu Sanggul adalah Syekh Abdus Samad, ia berasal dari Aceh (versi lain
menyebutkan dari Hadramaut dan dari Palembang). Sebelumnya Datu Sanggul
sudah menuntut ilmu di Banten dan di Palembang, ia menjadi murid ketiga
dari Datu Suban yang merupakan mahaguru para datu yang ahli agama dan
mendalami ilmu Tasawuf asal Pantai Jati Munggu Karikil, Muning Tatakan
Rantau. Informasi lain yang berkembang juga ada yang menyatakan bahwa
nama asli Datu Sanggul adalah Ahmad Sirajul Huda atau Syekh Jalil. Datu
Sanggul atau Syekh Abdus Samad satu-satunya murid yang dipercaya oleh
Datu Suban untuk menerima kitab yang terkenal dengan sebutan kitab
Barincong, beliau juga dianggap memiliki ilmu kewalian, sehingga
teristimewa di antara ketigabelas orang murid Datu Suban.


Datu
Sanggul lebih muda wafat, yakni di tahun pertama kedatangan Syekh
Muhammad Arsyad di Tanah Banjar. Berkat keterangan Syekh Muhammad
Arsyad-lah identitas kealiman dan ketinggian ilmu Datu Sanggul terkuak
serta diketahui oleh masyarakat luas, sehingga mereka yang asalnya
menganggap “Sang Datu” sebagai orang yang tidak pernah shalat Jumat
sehingga tidak layak untuk dimandikan, pada akhirnya berbalik menjadi
hormat setelah diberitakan oleh Syekh Muhammad Arsyad sosok Datu
Sanggul yang sebenarnya.


Banyak
cerita yang lisan yang beredar di masyarakat berkenaan dengan keramat
Datu Sanggul. Diceritakan bahwa Kampung Tatakan pernah dilanda Banjir,
akibat hujan lebat, sehingga jalan-jalan di Kampung tergenang oleh air.
Pas ketika hari Jumat, biasanya orang kalau mengambil air wudhu di
sungai yang mengalir, dengan duduk di batang. Tetapi ketika Datu
Sanggul datang dan berwudhu dalam penglihatan orang-orang di masjid
beliau menceburkan diri ke sungai, tetapi anehnya ketika naik, badan
beliau tidak basah.


Jamaah
Masjid juga pernah menyaksikan ketika shalat, dalam beberapa menit
tubuh Datu Sanggul melayang di udara dan hilang dari pandangan orang
banyak. Riwayat juga ada menceritakan tentang berpindah-pindahnya
kuburan dari Datu Sanggul dari beberapa tempat, sampai yang terakhir di
Tatakan.


Berdasarkan
paparan di atas menjadi satu catatan penting, untuk menggagas kembali
penelitian sejarah yang mengungkapkan riwayat hidup tokoh sentral
masyarakat Tapin ini secara detail, guna melengkapi dan memperkaya
khazanah tulisan-tulisan yang sudah ada mengenai riwayat hidup, sejarah
perjuangan dan kiprah beliau di Bumi Kalimantan, seperti “Riwayat Datu
Sanggul dan Datu-Datu” oleh sejarawan Banjar Drs. H. A. Gazali Usman,
atau pula “Manakib Datu Sanggul”, oleh H.M. Marwan. Tenut saja, agar
generasi yang hidup di masa sekarang dan masa mendatang tidak pangling
terhadap sejarah dan tokoh yang menjadi “maskot” daerah mereka. Dalam
artian bukan maksud untuk mengagung-agungkan apalagi mengkultuskan
mereka, tetapi untuk mengikuti jejak hidup, perjuangan dan akhlak
postif sesuai prinsip ajaran agama yang telah ditorehkannya.
Wallahua’lam.

didin
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 3388
Points: 3399
Join date: 21/10/2009
Age: 46
Location: Banjarmasin-Palangka Raya

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by dragon on Tue Dec 29, 2009 10:01 pm

aku lawas dah bacari cuur kisah datu sanggul ni
sbb selalu urang manyambat pasal kitab berencong atau kitab rencong...

dragon
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 4129
Points: 4147
Join date: 15/06/2009
Age: 35
Location: Batu Pahat

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by didin on Tue Dec 29, 2009 11:48 pm

dragon wrote:aku lawas dah bacari cuur kisah datu sanggul ni
sbb selalu urang manyambat pasal kitab berencong atau kitab rencong...

dinto pang maksudnya /panjalasannya pasal kitab barencong gon'ai
kada sarana bingung lagi hal ihwal perkara kitab barencong itu

didin
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 3388
Points: 3399
Join date: 21/10/2009
Age: 46
Location: Banjarmasin-Palangka Raya

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by *ROSMAH* on Wed Dec 30, 2009 12:29 am

Umpat mambaca kisah2 banjar jua..
Gasan pengatahuan, amun kadada nang mambuat ka sia, memang kada tahu kisah2 banjar bahari..

*ROSMAH*
Mejar Jeneral
Mejar Jeneral

Posts: 6093
Points: 6137
Join date: 29/05/2009
Age: 57

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by Atong on Wed Dec 30, 2009 9:26 am

tq tq didin

andaki lagik kisah sejarah banjar

Atong
Mejar Jeneral
Mejar Jeneral

Posts: 8268
Points: 8310
Join date: 22/05/2009
Location: Alam Maya (Kuala Lumpur)

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by UmaYani/UY on Wed Dec 30, 2009 12:00 pm

Umpat jua macae kisah banjar bahari...

Tima kasih Didin...

UmaYani/UY
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 3505
Points: 3508
Join date: 22/05/2009
Location: Meru, Klang

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by Atong on Wed Dec 30, 2009 4:55 pm

behunjur betis dahuluk

mehadangi kisah pak didin

Atong
Mejar Jeneral
Mejar Jeneral

Posts: 8268
Points: 8310
Join date: 22/05/2009
Location: Alam Maya (Kuala Lumpur)

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by UmaYani/UY on Wed Dec 30, 2009 5:27 pm

tuan tanah gin umpat manirengi banarai...

Tahun hadap ha pulang mamosting kisah2 banjar...

UmaYani/UY
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 3505
Points: 3508
Join date: 22/05/2009
Location: Meru, Klang

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by Auma on Wed Dec 30, 2009 5:29 pm

hmmm

Mungkin ada tokok tambah

dari kisah hidup hiden yamg sabujurnya

Auma
Leftenan Kolonel
Leftenan Kolonel

Posts: 1713
Points: 1739
Join date: 25/05/2009

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by Dandan Setia on Wed Dec 30, 2009 7:01 pm

Umpat mahadang juha nih !!

Dandan Setia
Mejar
Mejar

Posts: 1116
Points: 1203
Join date: 23/05/2009
Location: Epoh, Pirak

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by Atong on Wed Dec 30, 2009 9:03 pm

dengar habarnyak

dandan setia nayak bisak bekisah juak

banyak besimpanan kisah

ayo hak ditampaikan

Atong
Mejar Jeneral
Mejar Jeneral

Posts: 8268
Points: 8310
Join date: 22/05/2009
Location: Alam Maya (Kuala Lumpur)

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by dragon on Tue Jan 05, 2010 12:42 am

hiden kisah humor haja luko...

dragon
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 4129
Points: 4147
Join date: 15/06/2009
Age: 35
Location: Batu Pahat

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by didin on Tue Jan 05, 2010 6:50 am

nah malangkapi kisah sejarahnya pulang

Makam Datu-Datu atau Ulama
Makam Datu
atau Ulama telah di renovasi dan mendapatkan penambahan fasilitas
sebagai upaya memfasilitasi peziarah yang merupakan salah satu budaya
masyarakat yang bernuansa keagamaan, yang merupakan kekuatan
pengembangan obyek wisata kabupaten Tapin sebagai wisata relegius.
Pengembangan wisata ini sebagai upaya mengenal dan mengenang kembali
sejarah, karena sebagai bangsa yang ingin maju tidak boleh melupakan
sejarah perjuangan pendahulu kitakhususnya para Datu atau Ulama yang
telah berjuang menyebarkan pengetahuan keagamaan dan kehidupan

Makam Datu Nuraya

Makam
sebagai tujuan wisata ziarah antara lain makam Datu Nuraya yang
merupakan makam panjang bahkan mungkin makam terpanjang di dunia (± 63
meter) dan haulannya (peringatan tahunan) adalah pada tanggal 14
Dzulhijjah. Makam ini terletak di desa Munggu Tayuh Tatakan Kecamatan
Tapin Selatan. Menurut riwayat, beliau bernama asli
Abdul Rauf, seorang Habib yang berasal dari Syria yang datang pada hari
raya menemui Datu Suban untuk menyerahkan kitab yang bernama Nyawa Alam
yang di kemudian hari terkenal dengan nama Kitab Barencong. Selesai menyerahkan Kitab tersebut beliau meninggal dunia dan dimakamkan di tempat dimana beliau meninggal tersebut. Karena
badan beliau tinggi dan besar, maka menguburkannya dibuat lubang yang
panjang sesuai dengan ukuran panjang dan lebar badan beliau.
Makam Datu Nuraya Banyak
peziarah yang datang ke makam beliau. Tidak hanya penduduk lokal,
tetapi banyak juga dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Arab
Saudi, Syria, Inggris, India dan lain sebagainya.

Makam Datu Suban
Datu Suban adalah seorang waliyullah yang memiliki Ilmu Hikmah dan menguasai
Ma'rifat tingkat tinggi. Murid-muridnya berjumlah 12 orang. Tiap murid
mempunyai tingkat Ilmu Kasyaf yang berbeda-beda, namun yang paling
lengkap kajian ilmunya dan mendapat kehormatan untuk mewarisi Kitab
Utama yang biasa disebut Kitab Barencong. Hanya murid beliau yang
bernama Abdussamad Al-Palembangi atau dengan nama lain Datu Sanggul.
Makam Datu Suban Dalam
komplek makam tersebut terdapat makam beberapa murid utama beliau
seperti Datu Karipis, Datu Diang Bulan, dan Datu Mayang Sari. Peziarah
tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi tetapi banyak juga dari
luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Arab Saudi, Syria, Inggris, India
dan lain sebagainya. Haulannya dilaksanakan pada bulan Syawal setiap
tahun

Makam Datu Sanggul
Selanjutnya adalah ziarah ke makam Datu Sanggul terletak di Desa Tatakan Kabupaten Tapin.
Papan nama makam Datu Sanggul
Makam Datu Sanggul
Ziarah ke makam Datu Sanggul Riwayat Datu Sanggul
Datuk
Sanggul berasal dari pulau Andalas ,sejarah mencatatnya bahwasanya
beliau berasal dari kota Palembang yakni Sumatera Selatan, yang
melakukan hijrah ke Kabupaten Tapin dengan membawa misi perkembangan
agama Islam,hingga menetap di desa Tatakan kabupaten Tapin sampai
beliau menghabiskan nafas terakhir dan disemayamkan di desa Tatakan
Kabupaten Tapin.
Datu Sanggul Semasa hidupnya, Datu Sanggul ke Tapin ( desa Muning Tatakan ) dalam
rangka menuntut ilmu agama kepada Datu Suban, hal ini bukan berarti
beliau belum memiliki ilmu agama, melainkan beliau sudah memiliki ilmu
agama sudah cukup dan juga seorang Ulama. Dalam suatu mimpi ( ketika
masih berada di Palembang ) didalam mimpinya bertemu dengan orang tua
yang menasehati kalau anaknda Abdussamad mau mendapatkan ilmu sejati
maka tuntutlah sekarang, dan orang itu berada didaerah Kalimantan
Banjar tepatnya di kampung Muning pantai Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa, di
sana ada seorang tua (datu) yang bernama Suban (Datu Suban), atas
petunjuk didalam mimpi itu Abdussamad berangkat menuju Kalimantan, yang
sebelumnya mendapatkan izin dari orang tua kandung hingga sampailah
beliau mendapatkan daerah yang dicari yaitu kampung Muning (Tatakan). Setibanya di kampung Muning, beliau menemui Datu Suban dan menceritakan
perihal akan mimpinya tersebut, dengan lapang dada seakan mengerti akan
simbol rabbaniyahtul Ilm pada hallikwal waktu itu Datu Suban pun
menerima dan mengerti akan maksud kedatangannya serta disambut serta
sangat diharapkan oleh Datu Suban ibarat pepatah buku bertemu dengan
ruas kemudian pasak bertemu dengan tiang. Atas pengamatan dan penilaian
Datu Suban terhadap Datu Sanggul bahwasanya Datu Sanggul mempunyai
sikap maupun watak yang berbeda dari murid-muridnya yang lain, sehingga
Datuk Sanggul diberikan amanah untuk menjaga kitab oleh Datu Suban
mengenai ilmu Ma'rifattullah. Menurut catatan sejarah,
aktifitas beliau sehari-hari yakni berburu rusa, katanya cara beliau
berburu dengan cara menunggu ditempat yang sering dilalui oleh binatang
buruan dan hasil dari berburunya didermakan ketetangga dan jiran
sekitar rumah beliau.
Menurut mereka yang sefaham aliran dengan
beliau ialah dengan ketaatan, ketawadhuan serta tingkat peribadatannya
sampai mencapai martabat Abudah dan Badal. Metode pelaksanaan syariat
keagamaannya di nilai sangat kuat seperti sholat Tahajjud terutama
dibulan suci Ramadhan beliau selalu mengikat perut dan menguatkan
ibadahnya untuk menunggu malam Lailatul Qadar, menurut kepercayaan
orang Banjar pada malam ganjil dimulai pada 20 akhir Ramadhan beliau
selalu menyanggul Lailatul Qadar, sehingga atas dasar tersebut
masyarakat setempat digelari dengan sebutan Datu Sanggul. Sementara keunikannya dari pola interaksi symbolic Datuk Sanggul,
melalui Kitab Barencongnya pada manaqibnya penuh syair serta puisi dan
pantun. Diceritakan oleh juri kunci pemakaman Julak Antung, dimana
masyarakat sekitar memanggilnya, menurutnya melalui yang tercatat dalam
sejarah yakni manaqib Datu Sanggul dengan riwayat Kitab Barencong yang
diberikan Datu Suban kepada Datu Sanggul secara silsilah merupakan
berasal dari Datu Nuraya yang maqamnya berada dekat pertahanan Datu
Dulung ketika melawan Belanda dan benteng tersebut adalah benteng
Munggu Tayuh digelari dengan Datu Nuraya karena datu tersebut datang ke
kampung Muning bertepatan dengan hari raya selepas Datu Suban
melaksanakan sholat Ied. Setelah berkenalan dan memperlihatkan sebuah
kitab kepada Datu Suban tidak lama kemudian orang tersebut ambruk dan
wafat pada hari raya itu juga. Mengenai riwayat Datu Nuraya tidak ada
kejelasan dari mana beliau berasal dan apa tujuan beliau berada
dikampung Muning Tatakan, namun menurut kabar yang berkembang di
masyarakat ada yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari Hadramaut
tetapi ada pula yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari pulau
jawa, dengan gelar garandali, diceritakan garandali sebuah gelar yang
luar biasa, namun ketawadhuan yang dimiliki Datu Nuraya membuat
hidupnya lebih memilih merakyat, keutamaan garandali tak lain adalah
seorang ulama yang selalu merakyat, halikwal dan keinginannya sudah
bulat di tujukan hanya satu yakni kepada Allah SWT, sehingga setiap
ibadah maupun di dalam memanfaatkan ilmunya,selalu merasa tak berdaya
melainkan hanya dengan pertolongan Allah SWT, setiap kebaikan yang di
anggapnya selalu hanya hadiah dari Allah.SWT, dengan seperti
itu,menjadikan hati bahkan seluruh batang tubuhnya hanya sebagai
persinggahan Allah.SWT saja dan ini tingkat ikhlash yang tertinggi
ungkapnya. Datu Nuraya, seorang figur garandali yang
menempuh jalan gurur, jalan gurur yang selalu di kilati akan hal dan
menurut kabar jalan ini tak mudah, dan konon beliau ini, dengan kain
kebesarannya atau tapih dapat mengatur alam, yang tentunya atas izin
Allah.SWT, seperti menurunkan hujan, mengatur petir, dan awan serta
angin yang bertiup, sehingga setiap beliau berjalan di terik matahari
awan selalu menaunginya, Sementara itu juga ada kabar yang menyebutkan
bahwasanya beliau bernama Syekh Gede Jangkung, hal ini dilihat dari
ukuran makam beliau yang panjangnya 63 meter. Kitab yang diberikan Datu
Nuraya kepada Datu Suban berisi tuntunan hidup pada kehidupan lahir dan
bathin untuk kehidupan didunia maupun dikehidupan akhirat serta rahasia
alam dan rahasia rubbubiyah, serta menyangkut Rabbaniyatul Ilm dan
Rabbaniyatul hukum. Kembali ke Datu Sanggul bertemu dan
menjalin persaudaraan dengan Datu Kelampaian, di ceritakan oleh
masyarakat setempat, akan hallikhwal Datu Kelampaian Syekh Muhammad
Arsyad Al Banjari mengaji ke mekkah, beliau sudah melakukan ikatan
lahir bathin dengan Datu Sanggul, yakni (beangkatan dangsanak) jika
orang banjar mengartikan. Ikatan saudara ini lebih di
perluas dengan saling memberikan pengetahuan satu sama lainnya, dimana
keingintahuan Datu Kelampaian pada isi kitab Datu Sanggul terpenuhi,
sementara pesan Datu sanggul kepada datu kelampaian yakni , kalau
adinda bulik ke banua yang sarincung kitab ini kaina ambil di Kampung
Muning Tatakan dengan syarat harus membawa kain putih, sebab bila kitab
ini bersatu lagi salah satu diantara kita akan kembali kepada Allah.SWT. Ketika Datu Kelampaian pulang ke kampung halaman di Martapura setelah
30 tahun mengaji di Mekkah dan sempat mengajar di Masjidil Haram Mekkah
pada bulan Ramadhan 1186 H atau bulan Desember 1772 M, usai Datu
Kelampaian berkumpul dengan keluarga maka beliau teringat dengan Datu
Sanggul sebagai saudara yang ada di kampung muning Tatakan dengan
berencana akan melakukan silahturhami.
Sesampainya di kampung Muning
beliau sampai pada gubuk yang sederhana apakah benar suadara Datu
Sanggul telah pulang kerahmatullah, dan konon meninggalnya Datu Sanggul
ditandai dengan hujan lebat selama tiga hari tiga malam
berturut-turut,yang menandakan bahwa langit dan bumi merasa bersedih
atas kepergiannya.

Syekh Salman Al-Farisi

Makam
Syekh Salman Al-Farisi terletak di desa Gadung Kecamatan Bakarangan, 7
km dari kota Rantau. Beliau seorang Ahli Pendidikan dan judga Ahli
Falaqiah yang banyak membantu masyarakat dalam membuat kalender
pertanian. Semasa hidupnya beliau mengajarkan agama yaitu
pelajaran Sifat 20 atau pelajaran Tauhid Al-Qur'an, Hadits dan Ilmu
Fiqh lainnya. Syekh Salman Al-Farisi hidup antara tahun 1857-1920 dan
merupakan cicit Datu Kalampaian Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Makam Syekh Salman Al-Farisi Makam ini tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai
daerah di Kalimantan, Jawa,dan Sumatera bahkan dari Malaysia dan Brunei
Darussalam. Haulan Syekh Salman Al-Farisi dilaksanakan setiap tanggal 9
Dzulhijjah.
Sekitar 200 meter dari makam beliau terdapat makam anak
cucu beliau yang juga sangat termashur yaitu H. Muhammad dan Wali H.
Muhammad Noor atau Wali An-Noor

Masjid Banua Halat ( Masjid Al-Mukarramah)

Seperti
Masjid yang lainnya, Masjid Keramat Banua Halat di Kecamatan Tapin
Utara, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan ini menawarkan sesuatu yang
berbeda dari biasanya terlebih secara kultural pada aspek kepercayaan
masyarakat sekitar, semenjak turun temurun masjid tersebut mempunyai
sebuah karismatik sebagai ikon peninggalan sejarah perjuangan para
tokoh agama di dalam mengembangkan misi agama Islam di daerah sekitar
masjid. Daerah itu sendiri dinamakan Banua Halat karena
kampung tersebut dinilai sebagai pahalat atau pembatas antara warga
yang beragama Islam dan penduduk yang masih menganut kepercayaan
tertentu. Meski telah memeluk Islam, tradisi baayun tetap
dipertahankan.
Masjid Banua Halat Masjid tersebut diperkirakan didirikan pada masa Kerajaan Banjar tahun
1890 di bawah pimpinan Sultan Muda Abdurrahman. Pada tahun 1910 masjid
itu dibakar penjajah Belanda, tetapi kemudian dibangun kembali dan baru
selesai tahun 1914. Pada tahun 1993 masjid tua di Banua Halat itu
ditetapkan sebagai cagar budaya. "Masjid Banua Halat"
ternyata memiliki magnet lain yang sangat kuat sebagai daya tarik
wisata. Karena bagi sebagian orang, Masjid Banua Halat sebagai tujuan
wisata religius di Kabupaten Tapin sekaligus simbol ke-istimewaan
masyarakat Tapin. Salah satu warga setempat menyatakan, "kurang afdhol
jika berziarah ke maqam-maqam di tapin jika tak mengunjungi masjid
Keramat Banua Halat", itulah kepercayaan turun temurun nenek moyang
mereka tentang masjid tersebut, terlebih lagi tutus, keturunan yang
masih asli banua halat terdapat disitu, karena warga desa banua halat
enggan pindah dari satu daerah ke daerah lain selain itu juga terdapat
fenomena seperti makhluk halus dari bangsa Jin yang kerap mengunjungi
masjid Banua Halat setiap bulan Maulid dengan berbaur dengan manusia
dalam perayaan baayun anak dan selalu ada saja keistimewaan setiap
tahun di masjid banua halat ini. Prosesi baayun
maulid diperkirakan sudah ada sejak masuknya Islam di daerah itu pada
awal abad ke-17. Baayun sendiri bukan datang dari tradisi Islam.
Tradisi ini diperkirakan terkait dengan kebiasaan dan kepercayaan
masyarakat setempat yang sudah ada sejak lama dan terus bertahan.
Penduduk asli Banua Halat memiliki hubungan keturunan atau kekerabatan
dengan warga Dayak Bukit yang tinggal di Pegunungan Meratus, Kalsel.

didin
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 3388
Points: 3399
Join date: 21/10/2009
Age: 46
Location: Banjarmasin-Palangka Raya

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by *ROSMAH* on Tue Jan 05, 2010 11:12 am

Terima kasih Didin..
Dapat manambah pangatahuan nang hanyar pulang..
Amun kada di caritakan, kami di sia kada tahu carita2 bahari di Banua..

*ROSMAH*
Mejar Jeneral
Mejar Jeneral

Posts: 6093
Points: 6137
Join date: 29/05/2009
Age: 57

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by hasbima@abe on Tue Jan 05, 2010 12:18 pm

tarima kasih didin

rame mambaca...info baik

hasbima@abe
Leftenen Jeneral
Leftenen Jeneral

Posts: 15609
Points: 15721
Join date: 13/06/2009
Age: 52
Location: tamaloh

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by dragon on Tue Jan 05, 2010 6:22 pm

makasih!

dragon
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 4129
Points: 4147
Join date: 15/06/2009
Age: 35
Location: Batu Pahat

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by hasbima@abe on Wed Jan 06, 2010 1:37 am

pada kulaan nang lain andaki lagi mun ada

hasbima@abe
Leftenen Jeneral
Leftenen Jeneral

Posts: 15609
Points: 15721
Join date: 13/06/2009
Age: 52
Location: tamaloh

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by dragon on Wed Jan 06, 2010 1:29 pm

abe dikda kisah banjar kah?
abe kan banjar
hehehehehe...

dragon
Brigedier Jeneral
Brigedier Jeneral

Posts: 4129
Points: 4147
Join date: 15/06/2009
Age: 35
Location: Batu Pahat

Back to top Go down

Re: KISAH-KISAH BANJAR

Post by CIKANG_LASTIK on Wed Jan 06, 2010 7:27 pm

Kiyai Salleh (parang terbang)


Mohd Salleh bin Abdul Karim

Haji Mohd Salleh bin Abdul Karim dilahirkan di Tanjung Olak Panchur,
Bukit Pasir, Muar, Johor pada tahun 1916. Masa mudanya banyak
dihabiskan dengan menuntut ilmu daripada beberapa orang guru
termasuklah guru di kampung isterinya, Hajah Esah Haji Abdul Rashid, di
Ara Pasung, Pontian, Johor.

Antara guru-guru Haji Mohd Salleh ialah Haji Hussein (belajar agama dan
al quran), Haji Alias, Haji Adam dan Haji Ahmad. Beliau juga turut
belajar daripada Haji Abdul Fadhil bin Abu Bakar Banten yang membawa
ajaran Wirid Khaujakan di Johor selepas mendapat perkenan Sultan
Ibrahim dan telah dilantik sebagai ketua kumpulan Wirid Khaujakan di
Batu Pahat , Johor.

Haji Mohd Salleh atau lebih dikenali sebagai Panglima Salleh atau "Kiai
Salleh" atau "Panglima Salleh Selempang Merah" merupakan seorang
pahlawan Melayu keturunan Banjar yang bangkit menentang kekejaman
komunis semasa selepas kekalahan Jepun semasa Perang Dunia II.




Panglima Salleh (tengah) bersama anggota Polis Marin (Foto Berita Harian)
Pemimpin Tentera Selempang Merah banyak berjasa halang kekejaman askar Parti Komunis Malaya (PKM) di Muar dan Batu Pahat

Sumbangan Panglima Salleh amat besar, ketika komunis mengganas dengan
menyeksa dan membunuh kejam penduduk tempatan sekitar Muar dan Batu
Pahat, tokoh itu bangun 'mengamuk' menentang pengkhianat negara itu
bagi mempertahankan maruah bangsa.

Tentangan hebat diberikan Panglima Salleh dan pasukan 'Tentera
Selempang Merah' yang ditubuhkannya menyebabkan nama tokoh itu digeruni
komunis sehinggakan mereka tidak berani lagi bermaharajalela dan
menganiaya penduduk sekitar daerah berkenaan sesuka hati.

Apa yang mengagumkan adalah Panglima Salleh sanggup 'turun padang'
untuk bertempur dan memerangi sendiri askar komunis dan bukan sekadar
memberi arahan atau memerintah , beliau tidak takut mati malah sanggup
mempertaruhkan darah dan nyawanya sendiri demi membela agama dan bangsa.

"Riwayat hidup Panglima Salleh bermula apabila beliau dilahirkan di
Tanjung Olak Batu, Bukit Pasir, Muar pada 1916," beliau seterusnya
memulakan kisah perjuangan Panglima Salleh menentang komunis demi
membela agama, bangsa dan negara.

Keperwiraan Salleh mula diasuh sejak kecil apabila beliau mula menuntut
ilmu kepahlawanan daripada beberapa pendekar di Pagoh antaranya Haji
Hussein, Haji Alias, Haji Adam dan Haji Ahmad ketika beliau berusia 13
tahun.

Ketika usia mudanya itu, beliau dikenali sebagai seorang yang agak
'nakal'. Ada cakap-cakap mengatakan dia pernah mencuri, bagaimanapun
dia menyara hidup dengan menjadi peraih yang mengutip tanaman penduduk
kampung untuk dijual di Batu Pahat.

Akan tetapi, kehadiran tentera Jepun di Tanah Melayu pada 1941 mula
menggugat kehidupannya lalu beliau berpindah ke Seri Medan yang menjadi
lubuk Parti Komunis Malaya (PKM) seterusnya ke Parit Gantung, dekat
Lopiak.

Pada zaman pemerintahan Jepun, komunis menerusi Malayan People
Anti-Japanese Army (MPAJA) masih dianggap sebagai antara pejuang
penentang penjajah Jepun di Tanah Melayu malah mereka turut mendapat
sokongan rakyat tempatan.

Berikutan itu, Salleh dipercayai menerima pelawaan PKM supaya menyertai
pihak itu dan beliau diberi kepercayaan untuk mengutip cukai daripada
penduduk kampung dan peniaga. Salleh juga turut diberi sepucuk pistol
oleh PKM.

Bagaimanapun, Salleh tidak menyerahkan semua pungutan cukai itu kepada
PKM sebaliknya beliau bertindak seumpama 'Robin Hood' apabila
mengagihkan pungutan itu kepada penduduk susah dan miskin.

Tindakan itu menyebabkan PKM berang dan pada suatu malam, segerombolan
komunis bertindak mengepung rumah Salleh. Bagaimanapun, ketika menyerbu
masuk, mereka gagal menemui kelibat Salleh walaupun dia memang berada
di dalam rumah berkenaan.

Mereka mengulangi serbuan selama tujuh malam berturut-turut tetapi
masih gagal. Berang dengan kelicikan Salleh menyebabkan komunis
memasukkan pemuda itu dalam senarai 'bertanam ubi' iaitu istilah bagi
mereka yang akan dihukum bunuh oleh komunis.

Ketika itu PKM mula menunjukkan 'wajah' sebenar mereka. Berita
kehilangan penduduk Mukim Empat secara tiba-tiba tanpa dapat dikesan
semakin menjadi-jadi. Selepas seorang, seorang lagi penduduk dilaporkan
hilang secara misteri.

Penduduk yang kebanyakannya terdiri daripada suku Banjar dan Jawa mula
percaya yang kehilangan saudara mereka adalah angkara komunis berikutan
mereka enggan tunduk kepada perintah dan arahan pihak terbabit.

Pihak komunis pula mengesyaki penduduk Mukim Empat berpakat dengan
tentera Jepun untuk memerangi mereka menyebabkan mereka mula menangkap
penduduk yang disyaki seterusnya dihukum bunuh.

Kemelut itu akhirnya menyebabkan penduduk tempatan mula menubuhkan
'Persatuan Muhammadiah' dalam usaha menentang komunis. Penduduk juga
mula bangkit membela diri dan pembunuhan balas antara komunis dengan
penduduk Mukim Empat semakin memuncak.

Ketika tentera Jepun di ambang kekalahan, komunis semakin
bermaharajalela di Johor. Mereka mula mengganas dan menyeksa penduduk
tempatan dengan zalim. Penduduk dibunuh dengan pelbagai cara antaranya
ditanam hidup-hidup, diseksa sampai mati, direbus atau diseret di jalan
sehingga ratusan penduduk menjadi mangsa mereka.

Pertemuan Salleh dengan seorang tokoh iaitu Haji Kadri pada petang 4
April 1945 akhirnya mula membenihkan semangat juang demi membela agama,
bangsa dan tanah air di dalam sanubarinya.

Kesedaran tulus itu menyebabkan Salleh mula bangkit menentang komunis.
Dengan pedang pusaka Raja Riau disisip di pinggang, berpakaian serba
hitam, Salleh mula melangkah gagah memasuki gelanggang perang bersama
doa dan bacaan ayat suci yang dibaca berulang kali.

Penyertaan Salleh dalam penentangan terhadap komunis menyebabkan
namanya dicalonkan Haji Kadri supaya memimpin Persatuan Muhammadiah
selepas pemimpin sebelum itu, Ijam Ahmad menarik diri.

Walaupun pada mulanya ada ahli tidak bersetuju dengan pencalonan Salleh
berikutan ‘kenakalan’ tokoh itu ketika muda, akhirnya semua ahli akur
untuk menerima Salleh sebagai pemimpin persatuan itu.

Ini berikutan Salleh dikenali sebagai seorang yang hebat dalam ilmu
persilatan dan tinggi ilmu batin malah sikap gagah berani tokoh itu
dilihat amat sesuai untuk mengepalai pasukan perang menentang komunis.

Sebaik dilantik, Salleh mula menyusun strategi dan mengumpul anak muda
yang tidak gentar atau lemah semangat untuk bersama-samanya bertempur.
Anak muda itu diajar amalan tertentu bagi menguatkan aspek kebatinan
masing-masing.

Seterusnya di bawah pimpinan Salleh, serangan demi serangan mula
dilancarkan pasukannya yang turut digelar 'Tentera Selempang Merah'.
Serangan Tentera Selempang Merah terhadap komunis tercetus di seluruh
Muar dan Batu Pahat.

Selain serangan secara berpasukan, Salleh juga bertindak berani apabila
berbasikal seorang diri hampir setiap malam semata-mata untuk mencari
komunis bagi dibunuh dan dicantas kepalanya.

Di bawah bimbingan Salleh, semangat perjuangan di kalangan penduduk
ketika itu amat berkobar-kobar dan mereka mula merancang satu serangan
besar-besaran terhadap komunis di Bandar Penggaram.

Bagaimanapun, serangan itu berjaya dihalang Datuk Onn Jaafar dan tokoh
politik itu sebaliknya cuba mengaturkan perdamaian antara pihak Salleh
dengan komunis.

Lalu pada 15 September 1945, pada satu pertemuan di Tangkak, Muar,
akhirnya pemimpin PKM dan Salleh akur untuk mengadakan perdamaian
selepas tiga hari berbincang.

Bagaimanapun, perjanjian damai itu akhirnya dikhianati komunis apabila
mereka terus melakukan angkara dan membunuh kejam penduduk tempatan
terutama apabila Jepun menyerah kalah.

Pengkhianatan itu segera membangkitkan kemarahan Salleh dan beliau
kembali mengumpul pasukan Tentera Selempang Merahnya untuk kembali
menentang komunis Bintang Tiga itu. Serangan berterusan dan semakin
ramai komunis yang maut di tangan pahlawan itu.

Jasa Salleh dalam usaha menghapuskan komunis menyebabkan Sultan Johor
ketika itu, Sultan Ibrahim memberi gelaran 'Panglima' kepadanya pada 26
Disember 1945 malah beliau turut dilantik sebagai Penghulu Mukim Empat,
Batu Pahat.

Selepas menabur begitu banyak jasa terhadap agama, bangsa dan tanah
air, Panglima Salleh akhirnya meninggal dunia di Hospital Besar Johor
Bahru pada 21 April 1959 iaitu selepas hampir dua tahun negara beroleh
kemerdekaan.

Tokoh pahlawan itu meninggal dunia akibat penyakit bengkak paru-paru
sekali gus meninggalkan nama dan keperwiraannya sebagai sebuah kisah
pejuang ulung yang meniti daripada bibir ke bibir.


Komunis terkejut tubuh tak lut peluru

SELAIN semangat cintakan agama, bangsa dan tanah air yang begitu
membara, kehebatan Panglima Salleh dipercayai terletak pada kekuatan
ilmu batin yang dikuasainya sehingga menyebabkan ramai komunis takut
untuk berhadapan dengan tokoh itu.

Pengkaji yang juga penulis novel sejarah, Zaharah Nawawi, berkata
berdasarkan kajiannya mengenai sejarah hidup dan perjuangan Panglima
Salleh, ramai kenalan atau pihak yang mengenali tokoh itu menceritakan
bahawa kekuatan ilmu batinnya menyebabkan beliau mampu melakukan
beberapa perkara luar biasa.

"Mengikut cerita, beliau boleh menjelma seperti kucing, menyelinap
masuk ke dalam rumah daripada celah lubang yang kecil malah boleh
mengghaibkan dirinya.

"Bagaimanapun, beliau menggunakan ilmu batin yang dikuasainya ke arah
kebaikan iaitu dengan memerangi komunis," katanya yang mengabadikan
kisah perjuangan Panglima Salleh dalam novelnya 'Panglima Salleh
Selempang Merah' yang diterbitkan pada 1988.

Zaharah berkata, kehebatan ilmu batin Panglima Salleh juga menyebabkan
berlaku beberapa kejadian aneh sehingga menyebabkan komunis berasa
gerun tatkala berhadapan dengan tokoh itu ketika pertempuran.

"Bayangkan, peluru komunis macam hujan tetapi tidak kena pada jasadnya,
yang kena hanya batang pokok. Ketika itu komunis melihat tubuh Panglima
Salleh menjadi gergasi dan mereka menembak ke atas jadi kena pokok saja.

"Ketika Panglima Salleh pergi ke Batu Pahat pula, seluruh bandar sunyi
sepi kerana musuhnya melihat di langit tertera kelibat gergasi hitam
menyebabkan mereka takut dan melarikan diri," katanya.

Katanya, antara kehebatan Panglima Salleh yang menjadi buah mulut ramai
pihak adalah cerita mengenai komunis yang melihat parang milik Tentera
Selempang Merah terbang mencari kepala mereka untuk dicantas ketika
pertempuran.

Pasukan Panglima Salleh juga dikatakan menggempur komunis
dengan menggunakan senjata tradisional seperti parang dan tombak
walaupun pengganas itu menggunakan senjata api.

Panglima Salleh sendiri memiliki sebilah pedang luar biasa yang
diperoleh beliau di Kampung Tebing Tinggi. Pedang istimewa warisan
pusaka Raja Riau itu diberikan seorang lelaki bernama Taib sebagai
bayaran tukaran kepada segantang beras yang ingin dibeli Taib daripada
Salleh. Pedang itu dikatakan mampu memberi tujuh kesan cantas dengan
sekali libasan.


Zaharah berkata, tubuh fizikal Panglima Salleh hanyalah kecil tetapi
semangat dan keberaniannya menyebabkan beliau tidak gentar menentang
komunis malah turut sama menyertai pertempuran. Panglima Salleh juga
dikatakan memiliki kebolehan melentur besi.

Sebelum turun untuk memerangi komunis, Panglima Salleh akan melakukan
amal ibadat tertentu antaranya berpuasa, berzikir serta mengamalkan
bacaan wirid tertentu malah kaedah persediaan serupa turut dilakukan
pengikutnya.

"Sebelum bertempur, Panglima Salleh akan memilih pengikut berasingan
mengikut kampung, beliau akan memilih pengikut yang tidak terlalu tua
atau terlalu muda dan akan menepuk bahu bagi menguji tahap keberanian
pengikut yang ingin menyertainya berperang.

"Selepas itu beliau akan menyuruh pengikut terbabit berkumpul di
rumahnya untuk melakukan persediaan dengan beramal ibadat, solat hajat
dan menikmati jamuan," katanya.

Seterusnya semua pengikut terbabit akan meminum air dari tempayan yang
dijampi Panglima Salleh malah beliau akan memberi secebis kain merah
kepada setiap daripada mereka. Dan semenjak itu ada yang mengatakan
bahawa Panglima Salleh tidak lagi kebal tetapi masih dilindungi allah
semasa berperang.


PROFIL: Salleh Abdul Karim

# Gelaran lain: Panglima Salleh, Kiyai Salleh, Cikgu Salleh, Penghulu Salleh, Salleh Hitam, Salleh Keling

# Tahun lahir: 1916

# Tempat lahir: Tanjung Olak Batu, Bukit Pasir, Muar, Johor

# Tarikh meninggal: 21 April 1959

CIKANG_LASTIK
Staf Sarjan
Staf Sarjan

Posts: 499
Points: 503
Join date: 10/06/2009
Location: Dunia Digimon

Back to top Go down

Page 6 of 7 Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7  Next

View previous topic View next topic Back to top


Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum